Review Film

Review Film ‘Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini’ : Potret Persoalan Keluarga Milenial Hari Ini 

Pinterest LinkedIn Tumblr

Oleh: Arya Pratama Putra
Bisakah kita merasa bahagia jika tak pernah sedih? Pertanyaan itu sepertinya memang sudah terjawab pada film animasi Inside Out (2015). Namun Angga Dwimas Sasongko dalam Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini seolah berkata “nanti dulu” lalu mengganti pertanyaan menjadi Apakah tidak tahu akan suatu hal menyedihkan membuat kita lebih bahagia? Dan dapatlah kita drama penuh hati yang menganjurkan untuk membuka diri dan brutally honest kepada anggota keluarga.
Dengan amunisi kutipan-kutipan dari sumber aslinya (buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini karangan Marchella FP yang populer di kalangan milenial), Angga dan tim penulis naskah membangun satu keluarga sebagai pusat cerita. Keluarga yang dari luar tampak seperti potret keluarga modern yang berbahagia. Dengan tiga anak yang dewasa; si sulung Angkasa adalah sosok abang teladan yang sayang pada kedua adiknya, si tengah Aurora yang agak sedikit pemberontak, tapi memang begitulah seorang seniman, dan adik bungsu Awan yang mulai mengejar mimpinya bekerja di firma arsitektur mentereng. Bersama pendewasaan mereka, terbit juga cerita kegagalan, pertengkaran, kecemburuan. Keluarga ini semakin berjuang dengan ketidakbahagiaan di dalam diri masing-masing, yang berakar pada sikap ayah yang seperti lebih mementingkan Awan.
Menakjubkan cerita dengan tokoh kompleks ini bisa terwujud mengingat buku aslinya ‘hanya’ berupa kalimat-kalimat singkat dan ilustrasi per halaman. Penulis Jenny Jusuf dan Mohammad Irfan Ramly praktisnya hampir sama seperti membangun dari nol. Jika baru-baru ini kita yang punya Netflix menyaksikan Marriage Story (2019) yang berkisah ‘pertengkaran’ rumahtangga antara suami istri dengan melukiskan proses perceraian betulan dan kuat oleh sudut pandang kearifan lokal sosial di Barat, maka Nanti Kita Cerita Hari Ini sukses menghadirkan drama dalam konteks keluarga yang lebih besar – melibatkan  anak – dengan benar-benar mencerminkan wajah keluarga menurut kehidupan ketimuran. Bahwasanya anak diharapkan sebagai penyambung harapan orangtua, dengan setiap anak punya ‘tugas’ sesuai dengan urutan lahir yang kadang menghambat kehidupan pribadi anak itu sendiri. Dengan kata lain, ada pengorbanan. Dan tokoh-tokoh anak dalam keluarga ini, sesuai fitrahnya sebagai generasi muda yang modern, siap untuk memberontak, mencari kebahagiaan atas dan demi diri mereka sendiri.
Naskah berhasil menghimpun banyak garis plot dan menceritakannya dengan cukup efektif. Kita dapat melihat dan dapat merasakan konflik dari masing-masing tokoh karena film ini menuliskan dengan drama naratif dengan padu. Angkasa, Aurora, dan Awan – mereka punya keinginan dan kebutuhan atau wants-and-needs yang jelas. Benturan wants-and-needs dalam diri mereka bersumber dari tempat yang sama; dari sikap ayah kepada mereka. Konflik tidak berhenti di situ, kita juga melihat bukan saja keinginan dan kebutuhan masing-masing mereka saling berbenturan satu sama lain – menciptakan tensi di antara ketiganya, sekaligus juga bentrok dengan dunia luar – menciptakan tekanan yang harus mereka hadapi. Angkasa yang ingin melindungi adik-adiknya terutama Awan sesuai janji waktu kecilnya kepada ayah, he did a very good job at it, tapi ia juga perlu untuk memikirkan kepentingannya sendiri dan ini berdampak kepada kehidupan romansanya dengan pacar. Aurora yang ingin mendapat rekognisi dari ayah, dia perlu fokus ke pengembangan dirinya sendiri alih-alih selalu terdistraksi oleh cemburunya kepada Awan, yang mengganggu performanya dalam menghasilkan karya seni sebagai profesinya. Awan ingin bisa menentukan pilihannya sendiri dan gak lagi mendapatkan sesuatu karena bantuan ayah, tapi dia perlu belajar untuk tidak menjadi egois sebagaimana yang sudah menyebabkan dirinya dipecat karena tidak bisa bekerja sebagai tim.

Dalam sebuah cerita yang dangkal dan lebih tradisional, sosok ayah yang jadi sumber konflik mereka akan digambarkan satu-dimensi khas trope patriarki. Ayah dalam film ini memang pemaksa dan kadang terlihat terlalu lebay seperti ketika dia memarahi Awan yang terlambat di depan banyak orang seolah adegan yang memaksa dia harus marah saat itu juga supaya dramatis. Ayah ini mirip Marlin di Finding Nemo (2006), ia overprotektif terhadap Awan – bahkan menyuruh semua orang untuk overprotektif kepada bungsunya itu – dan juga mirip dengan Joy di Inside Out (2015) karena sama-sama punya prinsip untuk tak membiarkan kesedihan dekat-dekat sama keluarganya. Sebagai tokoh utama, Ayah memang sering terasa unbearable. Namun film sudah menyiapkan satu alasan sebagai pembelaan terhadap tokoh ini. Ada twist yang mengungkap rahasia yang dipilih untuk dipendam oleh sang ayah yang membuat tokoh ini bukan tipikal patriarki. Twist yang diposisikan sebagai resolusi, atau jawaban dari perubahan yang dilalui Angkasa, Aurora, dan Awan bukan hanya mempengaruhi ketiganya tapi juga bekerja lebih dalam membuat kita memikirkan ulang seberapa jauh orangtua berbuat demi kebahagiaan keluarga.
Meskipun ditanam dengan detil dan dengan alasan yang logis, namun ada masalah yang sering hadir dalam setiap cerita yang menggunakan elemen twist. Yakni akan ada sesuatu yang harus ditutupi, dikurangi dengan sengaja, karena naturally film ingin bagian pengungkapan bekerja maksimal. Pada kasus film ini, yang diminimalisir adalah peran sang ibu. Berbeda dengan Nemo yang ibunya meninggal saat tragedi masa lalu, ibu kakak-beradik dalam Nanti Kita Cerita Hari Ini masih hidup. Dia adalah bagian dari tragedi, dia ikut menyimpan rahasia, akan tetapi pada dua babak awal tokoh ini tidak banyak berperan. Dia hanya ada di setiap shot. Kita tidak melihat dia berinteraksi dengan anak-anaknya. Ini terlihat gak alami. Juga membuat kekompleksan cerita tidak bisa mencapai sempurna.
Konflik internal wants-and-needs harusnya membuat si tokoh ditarik-tarik antara ayah yang menjadi sumber / yang merepresentasikan keinginan mereka dengan satu tokoh luar yang memaksa mereka menyadari apa yang mereka butuhkan. Angkasa berada di antara ayah dan pacarnya. Awan ditarik-tarik antara ayah dengan Kale, lelaki yang ia temui di konser musik yang mengajarkan dia kebahagiaan sebagai diri sendiri. Aurora, yang sebenarnya punya konflik lebih pedih, hanya punya ayah. Tidak ada tokoh lain yang melambangkan keinginannya. Ibu harusnya menempati posisi ini  – dia satu-satunya tokoh yang kita lihat masuk ke studio Aurora dan later punya adegan dialog khusus berdua – tetapi karena ibu disiapkan baru boleh aktif setelah pengungkapan, kita tidak melihat dinamika wants-and-needs yang lebih dalam pada Aurora. Makanya, perubahan tokoh Aurora tidak kita terima sekuat yang lain.
Namun itu semua bisa termaafkan lantaran Sasongko menyiapkan jejeran pemain berkualitas untuk memberikan nyawa kepada tokoh-tokoh cerita yang kompleks dan manusiawi tersebut. Masing-masing tokoh punya dua versi; yang lebih muda dan yang lebih tua, sebab cerita akan sering bolak-balik antara masa lalu saat kejadian tragedi dan masa kini saat mereka sudah dewasa, dan pergantian pemain ini terlihat natural. Karakternya terasa kontinu tanpa ada aspek emosi dari mereka yang terlewatkan oleh kita. Semua pemain memberikan performa yang seragam meyakinkan, bahkan pemain tokoh-tokoh minor yang perannya cuma sebagai kameo, sebagai komedi, ataupun sebagai peniru gaya lelucon flashback ala Ant-Man (2015).

Akan banyak penonton milenial yang relate dengan keadaan keluarga dalam film ini. Entah itu mereka dalam posisi Awan alias anak bungsu yang merasa tertekan oleh kungkungan orangtua dan gak enak diri melihat pengorbanan kakak-kakak. Atau merasa seperti Aurora sebagai si tengah yang haus untuk membuktikan diri namun apapun yang kau lakukan selalu dibandingkan dengan kakak dan harus mengalah kepada adik – anak tengah yang paling banyak makan ati. Makanya film ini bisa dengan gampang terkoneksi dengan penonton. Apalagi jika penonton gemar dengan musik-musik aliran ‘kopi-dan-senja’ yang populer di kalangan milenial indie nan trendi. Sebab film ini akan banyak sekali memakai lagu-lagu dan menyebut penyanyi dan band seperti Kunto Aji, Arah, dan lain-lain. Jadi ya, film ini akan mengena sekali karena akan terasa pas dan mewakili seperti potret milenial hari ini.
Arya Pratama Putra adalah peraih Piala Maya 2017 kategori Blog/Vlog Review Film Terpilih.

Rubrik ini terselenggara berkat kerjasama dengan Forum Film Indonesia

BAGIKAN:
Tags: Film IndonesiaResensi Film Indonesia

%d bloggers like this: